Minggu, November 18, 2012

Jenderal HOEGENG, kami rindumu !!



Media Ummat,  (MALIPOL - Police Care Community ) 2012 ; ...... Gus Dur sering menyatakan dengan nada guyonnya, bahwa di Indonesia ini ada 3 (tiga) polisi yang jujur dan tak kenal pungli; yaitu Polisi Tidur, Patung Polisi  dan jenderal Hoegeng... >)))O> ..

Bicara Hoegeng, berarti kita bicara tentang Polri yang jujur, banyak ceritra menarik dari figur Hoegeng ini. Berikut cuplikan sedikit kenangan ttg beliau; ,,,,Saat dikaryakan dari kepolisian ke imigrasi, Hoegeng pernah menolak dibelikan mobil dinas baru. Ia mengaku sudah cukup dengan mobil dinas polisinya. Begitu pula sewaktu menjabat Menteri Iuran Negara: Hoegeng diminta pindah ke rumah dinas yang lebih besar. Tapi lagi-lagi ia menolak karena tugasnya sebagai menteri adalah mencari uang untuk negara, bukan menghamburkannya.

Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto  untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.
Begitu dipensiunkan, Hoegeng kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Roelani, ibundanya.



Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971, dan ia kemudian digantikan oleh Komisaris Jenderal Polisi Drs. Moh. Hasan. Pemberhentian Hoegeng dari jabatannya ini menyisakan sejumlah tanda tanya di antaranya karena masa jabatannya sebagai Kapolri saat itu belum habis. Berbagai spekulasi muncul berkaitan dengan pemberhentiannya tersebut, antara lain dikarenakan figurnya terlalu populer dikalangan pers dan masyarakat. Selain itu ada pula yang menyebutkan bahwa ia diganti karena kebijaksanaannya tentang penggunaan helm yang dinilai sangat kontroversi

Setelah pensiun, lelaki kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 ini menyalurkan hobi menyanyi di TVRI lewat grup Hawaian Senior. Namun ia kemudian dilarang tampil lagi dengan alasan acara itu tidak sesuai budaya Indonesia. Pada Mei 1980, Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50. Himpunan para tokoh itu mengeluarkan petisi tentang keprihatinan terhadap penyelenggaran negara oleh Orde Baru. Para penandatangannya antara lain Bung Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Ali Sadikin, Moh. Natsir, dan A. H. Nasution. Sejak itu, mereka menjadi oposisi yang diperhitungkan namun kerap ditindas rezim Orde Baru.

'Selamat jalan jenderal... *_*

Litbang MALIPOL
Masyarakat Peduli Kepolisian
(Police Care Community)

Arief Suwendi
No.03/kta//dpp/mkk-jb/2010



(Arief Suwendi; KTA No.03/KTA/DPP/MPK-JB/2010)

Tidak ada komentar: